Langsung ke konten utama

Postingan

Pilpres 2019: Fenomena Agama adalah Candu Masyarakat

Dalam gelaran pilpres tahun ini, agama menjadi isu yang sangat laris. Kedua pasang calon presiden dan wakil presiden sama-sama menggunakan isu agama untuk mendulang suara. Bahkan isu agama dijadikan alat untuk menggerakan massa pasca gelaran pemilu. Hal ini menunjukan sebuah fenomena yang Karl Marx sebut sebagai agama adalah candu bagi masyarakat. Sejatinya agama adalah obat bagi manusia. Ia membawa berbagai manfaat bagi para pemeluknya. Tapi, jika disalahgunakan, obat ini dapat menjadi candu yang membawa berbagai kemudharatan bagi pemeluknya. Penyalahgunaan obat (agama) inilah yang dimaksud Karl Marx dengan agama adalah candu masyarakat. Menurut Karl Marx, agama ini disalahgunakan oleh para kaum pemilik modal untuk memberikan halusinasi kepada rakyat yang tertindas supaya tidak melawan hegemoni kaum pemilik modal. Kenapa harus agama? Karena melawan agama sama dengan melawan Tuhan, entitas paling tinggi nan maha suci. Melawan Tuhan dianggap sebagai pembangkangan paling buruk. Maka...
Postingan terbaru

Apa yang Seharusnya Dituntut oleh Kaum Buruh

Setiap tahunnya di di tanggal 1 Mei, kaum buruh turun ke jalan dalam rangka memperingati hari buruh sedunia. Dalam aksinya, kaum buruh selalu membawa tuntutannya, yang mana selalu mengulang tuntutan dari tahun sebelumnya. Misalnya seperti kenaikan upah, penghapusan PP no. 78 tahun 2015, penghapusan sistem kontrak dan outsourcing, dll. Pengulangan tuntutan ini menunjukkan ketidakefektifan dari pergerakan buruh. Lantas, apa yang seharusnya dituntut oleh kaum buruh ? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus tahu terlebih dahulu akar permasalahan dari kaum buruh. Akar dari permasalahan kaum buruh adalah pemerasan yang dilakukan oleh para pemilik modal. Kaum buruh bekerja menghasilkan produk yang dapat menghasilkan profit untuk perusahaan. Profit yan dihasilkan ini bisa beratus-ratus juta sampai bermilyar rupiah. Tapi, yang buruh dapatkan hanya upah sebesar UMR yang bahkan tidak sampai 10%   dari profit yang dihasilkannya. Sebagian profit itu diambil oleh para pemilik modal yang ba...

Masih Relevankah Isu Asing di Era Globalisasi ?

          Di pilpres kali ini, ada isu yang selalu diungkit, yaitu isu mengenai asing dan aseng . Isi dari isu ini adalah banyaknya tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia sedangkan masih banyak masyarakat Indonesia yag masih menganggur atau tidak memiliki pekerjaan. Dari isu mengenai invansi tenaga kerja asing, meluas menjadi isu berbagai sektor ekonomi Indonesia yang dikuasai dan dikelola oleh pihak asing.             Sebelum membahas lebih jauh, marilah kita jabarkan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan globalisasi. Globalisasi menurut KBBI (kamus besar Bahasa Indonesia) adalah proses masuknya ke ruang lingkup dunia. Sedangkan menurut Emmanuel Ritcher, globalisasi ialah jaringan kerja global secara bersamaan menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasi ke dalam saling ketergantungan dan persatuan dunia. Dapat kita simpulkan bahwa globalisasi akan menyatukan seluruh um...

Apa yang Salah dengan Valentine

      Sebuah fenomena dimana mayoritas rakyat Indonesia mengkampanyekan untuk menolak merayakan hari valentine yang jatuh pada setiap tanggal 14 Februari. Ya, mayoritas yang dimaksud disini ialah kelompok mayoritas yang ada di Indonesia. Setiap tahunnya mereka selalu mengkampanyekan anti-valentine dengan alasan bukan merupakan budaya mereka dan bertentangan dengan syariat.             Mari kita bahas sedikit mengenai sejarah hari valentine. Menurut detik.com , terdapat 2 versi sejarah hari valentine. Yang pertama adalah versi Saint Valentine yang dihukum mati oleh pemerintah Romawi karena diam-diam menikahkan tantara-tentara Romawi yang saat itu dilarang untuk menikah. Yang kedua adalah hari valentine diciptakan untuk menandingi hari Lupercalia. Hari Lupercalia merupakan tradisi bangsa Romawi Kuno yang tidak beradab dimana para wanita akan dicambuk dengan harapan akan mendatangkan kesuburan. Lalu, tradisi ini diga...

Perang Melawan Komunisme

        Sudah hampir 55 tahun semenjak pembersihan besar-besaran terhadap Partai Komunis Indonesia beserta basis massanya. Tapi, “hantu-hantu” komunis tetap meneror kita sampai saat ini. Tanpa memiliki basis massa, komunis berhasil membuat kita takut dan bersikap paranoid. Berbagai cara sudah kita lakukan untuk melawan “hantu-hantu” ini, tapi, tetap tidak berhasil. Apa yang salah dari strategi kita ?             Pertama, kita harus mengevaluasi terlebih dahulu kesalahan dan kekurangan dari strategi lama kita. Strategi yang kita terapkan saat ini adalah dengan membangkitkan kewaspadaan masyarakat terhadap penyebaran dan kebangkitan ideologi komunisme. Dengan begitu, rasa takut masyarakat akan semakin meningkat seiring dengan naiknya tingkat kewaspadaan masyarakat. Rasa takut yang berkelanjutan inilah yang memelihara terror dari “hantu” komunis.           ...

Logika Mistik Digital

Akhir-akhir ini, Whatsapp sedang menguji fitur baru yang mana akan membatasi jumlah pesan yang bisa kita forward . Harapan dari diterapkannya fitur ini ialah dapat mengurangi angka penyebaran hoaks . Seperti yang kita ketahui, Whatsapp merupakan aplikasi chatting paling populer saat ini. Karena hal itu, Whatsapp sering kali dijadikan media penyebaran hoaks .             Menurut KBBI, hoaks berarti berita bohong dan/atau berita tidak bersumber. Hoaks bukanlah gejala baru, ia sudah terjadi sejak masa lampau. Berbohong bukanlah kemampuan yang manusia kuasai baru-baru ini. Yang menjadikan hoaks ini isu besar adalah berkembangnya teknologi komunikasi. Dengan semakin mudahnya kita berkomunikasi dengan orang lain, maka semakin mudah pula hoaks itu menyebar.             Oleh karena itu, perusahaan penyedia aplikasi chatting “merasa” bertanggungjawab untuk mengembangkan teknologi y...

Tajam ke Kiri Tumpul ke Kanan

            Indonesia adalah negara hukum, begitulah yang tertulis di dasar konstitusi kita, UUD 1945. Hal ini berarti segala tindakan yang terjadi di negeri ini harus berdasarkan hukum yang berlaku. Semua orang yang berada di lingkungan NKRI harus mematuhi hukum dan yang tidak mematuhi atau melanggar hukum harus menerima konsekuensinya berupa hukuman seperti yang sudah ditentukan. Karena itu, hukum haruslah adil, tidak memandang bulu siapa pelakunya. Tapi, dalam prakteknya di Indonesia, hukum itu tidaklah adil. Ini dapat kita lihat dari adanya pepatah hukum tajam ke bawah tumpul ke atas. Artinya, hukum selalu ditegakkan dengan tegas jika yang melanggar datang dari kelas sosial rendah sedangkan hukum akan berlaku lembek jika yang melanggar datang dari kelas sosial atas. Tapi, ada fenomena ketidakadilan baru yang penulis sebut sebagai tajam ke kiri tumpul ke kanan.          ...