Akhir-akhir ini, Whatsapp
sedang menguji fitur baru yang mana akan membatasi jumlah pesan yang bisa kita forward. Harapan dari diterapkannya
fitur ini ialah dapat mengurangi angka penyebaran hoaks. Seperti yang kita ketahui, Whatsapp merupakan aplikasi chatting paling populer saat ini. Karena
hal itu, Whatsapp sering kali dijadikan media penyebaran hoaks.
Menurut KBBI, hoaks berarti berita bohong dan/atau berita
tidak bersumber. Hoaks bukanlah gejala baru, ia sudah terjadi sejak masa
lampau. Berbohong bukanlah kemampuan yang manusia kuasai baru-baru ini. Yang
menjadikan hoaks ini isu besar adalah berkembangnya teknologi komunikasi.
Dengan semakin mudahnya kita berkomunikasi dengan orang lain, maka semakin
mudah pula hoaks itu menyebar.
Oleh karena itu, perusahaan penyedia aplikasi chatting “merasa” bertanggungjawab untuk
mengembangkan teknologi yang bisa menghambat penyebaran hoaks. Sebenarnya,
menghambat penyebaran hoaks ini bukanlah bukanlah tanggung jawab perusahaan
penyedia layanan, tetapi, karena tekanan dari pemerintahlah yang menuntut
mereka untuk bertanggungjawab terhadap penyebaran hoaks. Kenapa pemerintah
menekan perusahaan penyedia layanan untuk bertanggung jawab atas penyebaran
hoaks ? Karena pemerintah telah gagal menghambat penyebaran hoaks. Pemerintah
hanya bisa mengeluarkan pasal “karet” yang dalam prakteknya tidak jelas, hanya
menargetkan orang-orang tertentu.
Sebelum membahas solusi dari permasalahan ini, kita haruslah
mengetahui penyebabnya terlebih dahulu. Alasan dari mudahnya hoaks menyebar,
selain dari majunya teknologi komunikasi, adalah cepatnya kita mempercayai
sesuatu. Keengganan kita untuk sekedar mencari tahu kebenaran dari kabar yang
kita terimalah yang menyebabkan cepat tersebarnya hoaks. Sebagaimana kita
mempercayai sebuah mitos, keengganan untuk berpikir secara ilmiah dan cepatnya
kita menyimpulkan sesuatu jugalah yang membuat kita percaya pada hoaks.
Sebenarnya, solusi dari permasalahan ini sudah ada sejak
tahun 1943. Di tahun itu, Tan Malaka menyelesaikan karyanya yang berjudul
Materialisme, Dialektika dan Logika atau dapat kita singkat menjadi Madilog.
Tujuan dari Tan Malaka menulis Madilog adalah untuk membebaskan rakyat
Indonesia dari jeratan logika mistik. Menurut Tan Malaka, logika mistik ini
menyesatkan dan akan membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tidak maju.
Seiring perkembangan zaman, logika mistik ini sudah tidak lagi berbentuk mitos
atau takhayul. Logika mistik itu sekarang berbentuk hoaks dan kabar bohong yang
disebarkan melalui aplikasi chatting seperti
Whatsapp dan media sosial seperti Facebook. Inilah logika mistik digital.
Kita mulai dengan materialisme terlebih dahulu.
Materialisme yang dimaksud adalah cara berpikir yang berlandaskan pada
kebendaan. Menurut Tan Malaka, cara berpikir materialisme dapat digunakan untuk
melawan logika mistik yang berbentuk mitos dan takhayul ghaib. Mungkin di zaman
modern ini sudah tidak ada lagi, atau masih sedikit, yang percaya pada
mitos-mitos ghaib. Tapi, kepercayaan pada mitos ghaib ini bisa meningkat
kembali jika tingkat pengetahuan ilmiah masyarakat Indonesia berkurang. Seperti
yang kita ketahui, alasan seseorang mempercayai sebuah mitos ghaib adalah
karena ketidakmampuannya dalam menyelidiki suatu fenomena menggunakan metode
ilmiah empiris dan karena ketidakmampuannya ini seseorang akan mengambil
kesimpulan dengan cepat bahwa yang bertanggung jawab atas fenomena tersebut
adalah kekuatan ghaib. Proses seperti ini pula yang menyebabkan cepat
tersebarnya hoaks di masyarakat. Kurangnya pengetahuan masyarakat ditambah
dengan keengganan untuk menyelidiki lebih dalam lah yang membuat mereka cepat
mengambil kesimpulan bahwa hoaks itu benar adanya.
Yang kedua adalah dialektika. Dialektika adalah sebuah
metode berpikir yang seperti sebuah dialog. Dialektika terdiri dari dua hal
utama, yaitu tesis dan anti-tesis. Dari kedua hal ini, akan didapat sesuatu
yang baru bernama sintesis. Pola pikir dialektika mengajarkan kita untuk
melihat suatu masalah dari dua atau lebih sudut pandang. Hal ini dimaksudkan
supaya kita bisa melihat masalah tersebut secara utuh. Biasanya, hoaks hanya
menawarkan satu sudut pandang saja, dan karena itulah, hoaks bisa dijadikan
alat untuk membentuk opini masyarakat. Dengan menerapkan pola pikir dialektika,
diharapkan kita dapat melihat masalah yang dibawa dalam suatu hoaks dari
berbagai sudut pandang sehingga opini kita tidak mudah digiring oleh pihak yang
tidak bertanggung jawab.
Yang terakhir adalah logika. Logika adalah pola pikir
yang berlandaskan pada fakta yang didapat dari eksperimen atau pengalaman
empiris. Disinilah letak kelemahan hoaks. Hoaks biasanya tidak berdasarkan
fakta yang benar tetapi dibungkus seakan-akan fakta yang terkandung di dalamnya
adalah benar. Mungkin kita tidak memiliki waktu untuk melakukan eksperimen yang
menguji kebenaran dari suatu kabar, tetapi, dengan adanya kemajuan teknologi,
kita dapat dengan mudah mengakses fakta-fakta dari sumber yang bertanggung
jawab dan men-cross check dengan
fakta yang ada di dalam kabar yang kita terima.
Itulah solusi yang ditawarkan oleh bapak bangsa kita.
Dengan menerapkan pola pikir madilog, diharapkan kita dapat terbebas dari
berbagai macam logika mistik, termasuk logika mistik digital ini. Hoaks diciptakan
oleh pengguna, disebarkan oleh pengguna dan menargetkan pengguna pula. Maka
dari itu, yang bertanggung jawab untuk menghambat penyebaran hoaks adalah diri
kita sendiri sebagai pengguna layanan komunikasi.
Tetapi, melihat fakta bahwa minat membaca rakyat
Indonesia yang rendah, agak sulit untuk membuat masyarakat menggunakan pola
pikir Madilog ini. Keengganan rakyat untuk membaca karya dari Tan Malaka ini
akan menyebabkan pola pikir Madilog tidak dapat masuk ke dalam pikiran
masyarakat. Solusi yang bisa saya tawarkan adalah memasukkan pelajaran filsafat
ke dalam kurikulum sekolah sehingga generasi penerus bangsa memiliki pola pikir
yang baik dan benar. Dengan mengajarkan anak-anak sedari dini untuk menggunakan
pola pikir Madilog, perlahan-lahan kita akan memperbaiki pola pikir bangsa ini
dan menyelamatkan masa depan bangsa Indonesia.
Komentar
Posting Komentar