Langsung ke konten utama

Azab Tahun Politik



         Akhir-akhir ini Indonesia sering dilanda bencana. Mulai dari gempa di Lebak pada bulan Januari sampai tanah longsor di Sukabumi baru-baru ini. Banyak korban tak bersalah berjatuhan. Pertanda apakah semua ini ?
            Apakah ini azab karena banyaknya perbuatan maksiat di Indonesia ? Apakah ini azab karena banyaknya ulama yang dikriminalisasi ? Apakah ini azab karena pemimpin yang dzalim ? Apakah ini azab karena bangkitnya partai setan dan partai komunis ?
            Jawabannya adalah tidak. Semua bencana yang melanda Indonesia bukanlah dikarenakan alasan-alasan diatas. Bencana-bencana yang melanda Indonesia merupakan azab karena kita telah merendahkan agama, terutama agama Islam. Merendahkan seperti yang dimaksud ?
            Kita telah merendahkan Islam dari derajatnya yang tinggi sebagai agama menjadi mainan politik. Menjelang tahun politik, masyarakat Indonesia terpecah menjadi dua kubu yaitu kubu petahana atau pro-Jokowi dan kubu pro-Prabowo. Kedua kubu ini saling menjatuhkan satu sama lain menggunakan isu agama, terutama agama Islam. Kita saling serang dengan menggunakan isu agama dan berusaha mendulang elektabilitas menggunakan isu agama. Ironisnya, yang kita serang dengan isu agama itu ialah masih satu keimanan, satu tuhan dan satu agama dengan kita.

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُواۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (Q.S. al-Hujurat:13)
Jelas sekali dalam ayat diatas bahwa Allah SWT menciptakan manusia terdiri dari dua jenis kelamin dan berbagai suku bangsa untuk saling mengenal. Hal ini sudah diimplementasikan dalam semboyan negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Lantas mengapa hanya dengan berbeda pandangan politik kita jadi membenci satu sama lain ? Bukankah itu berarti kita telah melanggar ayat suci Allah SWT ?
            Dan masih berdasarkan ayat di atas, orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah SWT, bukan suku tertentu maupun pendukung salah satu dari kedua capres. Dan karena orang yang paling bertakwa adalah orang yang paling mulia, bukan berarti kita boleh menyombongkan ketakwaan kita dan menghakimi orang lain dengan sebutan kafir.

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl:125)
Ayat di atas cukup menjelaskan apa yang harus kita perbuat jika kita merasa paling bertakwa kepada Allah SWT, yaitu dengan berdakwah kepada orang lain dengan cara yang baik. Juga di ayat tersebut Allah SWT meyerukan manusia untuk berdebat dengan cara yang baik, bukan berdebat dengan mengeluarkan kata-kata makian dan cap kafir. Hal inilah yang mulai dilupakan umat Islam sekarang menjelang tahun politik.
Kita mencap kubu lawan dengan kata-kata yang tidak baik, seperti cap cebong-kampret. Kita menyebar hoax untuk menjatuhkan lawan. Kita merasa paling benar Islamnya tetapi kita malah menghina dan merendahkan orang lain yang berbeda pandangan politiknya dengan kita. Kita menjual isu-isu agama untuk mendulang elektabilitas, menjadikan agama seolah-olah barang dagangan. Karena inilah Allah SWT memberikan azab berupa bencana yang jumlahnya cukup banyak kepada bangsa ini.
            Maka dari itu, mari kita hentikan segala permusuhan ini. Mari kita menjadi muslim yang benar-benar bertingkah laku sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT. Sudah cukuplah pertanda yang Allah SWT berikan kepada bangsa ini supaya bangsa ini sadar betapa tingginya derajat agama Islam. Mari jadikanlah demokrasi sebuah pesta yang menyenangkan dan jangan jadikan demokrasi sebagai ajang untuk permusuhan, merendahkan agama dan pamer ketakwaan.

Komentar