Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa
pola pendidikan kita mengasingkan murid-muridnya dari kodratnya sebagai
manusia. Kebebasan dan kreativitas kita telah dikekang oleh sistem ini. Kita,
sebagai murid-murid yang terasing, haruslah melakukan sebuah perubahan demi hak
kita dan masa depan bangsa yang lebih baik. Lantas, seperti apa perubahan yang
harus kita lakukan ? Harus kita ubah menjadi seperti apa sistem pendidikan ini
?
Seperti
yang kita tahu, bahwa pendidikan ialah usaha untuk memanusiakan manusia,
menerangi gelapnya kebodohan dll. Agar tercapai pendidikan
yang memanusiakan manusia itu, pola pendidikan kita harus diubah dengan cara :
1.
Mengakui
keberagaman. Keberagaman yang dimaksud disini ialah keberagaman minat dan
bakat. Dengan mengakui keberagaman itu, kita bebas memilih untuk belajar
hal-hal yang kita senangi sehingga kita dapat fokus memperdalam satu bidang.
2.
Mengubah
mindset. Mengubah dari menganggap
murid hanya sebagai “cangkir kosong yang harus diisi“ menjadi “manusia yang
penuh dengan bakat yang harus dikembangkan.“
3.
Mengurangi
jam belajar di sekolah. Dengan jam belajar di sekolah yang dikurangi, murid
akan memiliki banyak waktu untuk melakukan interaksi sosial di masyarakat.
Dengan begitu, murid dapat mempelajari perannya di masyarakat dan dapat
mengurangi angka penyimpangan sosial.
4.
Harus
menekankan pada praktek di kehidupan. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang
dapat diterapkan dalam kehidupan. Jangan sampai pendidikan hanya “mengajarkan“
murid untuk memindahkan materi dari buku ke kertas ujian.
5.
Harus
berorientasi pada proses. Pendidikan bukanlah tentang nilai akhir yang akan
didapat, tetapi tentang proses pembelajaran untuk menjadi manusia yang lebih
baik.
6.
Harus
mengasah pikiran kritis. Pikiran kritis ini sangat penting untuk menghasilkan
inovasi. Tanpa adanya pikiran kritis, bangsa ini akan selalu terbelakang.
Itulah pendidikan yang ideal menurut penulis (jika ada
pendapat lain, silahkan tambahkan). Tapi, perubahan-perubahan itu tidaklah datang
dengan sendirinya. Perubahan-perubahan itu haruslah kita ciptakan sendiri. Ingatlah
sabda Tuhan yang mengatakan bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum
sebelum kaum itu sendiri yang mengubahnya. Perubahan akan selalu diawali dengan
adanya perlawanan, perlawanan terhadap sistem yang kolot. Maka dari itu, untuk
melakukan perubahan-perubahan dalam sistem pendidikan, kita haruslah melawan sistem
pendidikan yang telah mengasingkan kita ini.
Perlawanan seperti apa yang bisa kita lakukan ? Banyak.
Salah satunya dan yang sering kita lakukan adalah dengan membolos dan tidak
mengerjakan tugas. Mengapa dua perbuatan “menyimpang” tersebut dapat dikatakan
sebagai perlawanan ? Karena ketika kita membolos maupun tidak mengerjakan tugas
yang diberikan oleh guru, kita sadar akan kodrat manusia, yaitu bebas. Kita
menyadari bahwa seharusnya kita diberi kebebasan untuk memilih pelajaran yang
akan kita pelajari dan menolak mempelajari pelajaran yang tidak kita minati.
Penolakan terhadap pelajaran yang tidak kita minati inilah yang kita
ekspresikan dengan cara membolos dan tidak mengerjakan tugas. Diluar kedua itu,
masih banyak lagi bentuk perlawanan yang dapat kita lakukan seperti
menyampaikan aspirasi kita kepada guru, melakukan demonstrasi, dll.
Dan ingatlah bahwa tujuan perlawanan kita adalah untuk
menumbangkan sistem pengasingan ini, maka target kita adalah sistemnya, bukan
guru. Walaupun guru merupakan kepanjangan tangan dari sistem pendidikan, tapi
nyatanya mereka hanya menjadi budak yang menjual hidupnya pada kurikulum. Guru-guru itu juga terasing. Mereka
menghabiskan waktu mereka hanya untuk memenuhi target nilai yang telah
ditetapkan oleh kurikulum demi sesuap nasi. Mereka terasing dari kodratnya
sebagai guru, yaitu untuk mendidik. Merelakan waktunya demi “mengajarkan“ ilmu
yang belum tentu diminati oleh murid. Banyak ilmunya yang langsung dilupakan
oleh murid selepas ujian dan menjadi tidak bermanfaat. Jika murid diberi
kebebasan untuk memilih pelajaran yang ia minati, maka jam mengajar guru akan
berkurang dan ilmu-ilmu yang diberikannya akan bermanfaat, bukan hanya sekedar
formalitas angka, sehingga tercapailah kodratnya sebagai guru.
Maka dari itu, untuk
menciptakan sebuah sistem pendidikan yang sejati, diperlukan suatu persatuan
antar murid, antar guru, dan antar murid dengan guru. Murid harus merangkul
guru dalam usaha perlawanan ini. Tanpa persatuan ini, perlawanan kita akan
sia-sia dan gagal. Tanpa perlawanan ini, generasi
penerus bangsa akan terus terasing. Tanpa adanya kesadaran akan keterasingan
itu, kehancuran bangsa ini tinggal menunggu waktu.
Lawan, lawan dan lawan
Revolusi dunia pendidikan
telah menunggu kita
Keadaan sudah berganti
memihak kepada kita
Kobarkan
semangatmu wahai orang-orang bebas
Ingatlah
Tuhan selalu bersama kita
WAHAI KAUM PELAJAR, BERSATULAH !!!
Komentar
Posting Komentar