Karl Marx mengajukan sebuah konsepsi keterasingan,
yaitu keterasingan dalam pekerjaan. Karl Marx membandingkan antara manusia dan
hewan dalam menjalankan pekerjaannya. Hewan melakukan pekerjaannya berdasarkan
insting semata dan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja, sedangkan,
manusia melakukan pekerjaan menggunakan akal pikirannya dan melakukan pekerjaan
bukan hanya untuk memenuhi kebutuhannya, tapi juga untuk memenuhi hasrat
kreativitas dan kebebasannya. Dalam hal ini, manusia menggunakan akal kreatif
mereka dalam pekerjaan sehingga menghasilkan produk yang bukan hanya memiliki
nilai guna, tapi juga nilai estetika, sehingga akan ada perasaan bangga ketika
berproduksi.
Tapi
dalam keyataannya, manusia tidak lagi berproduksi untuk menyalurkan hasrat
kreativitas dan kebebasannya, tapi hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup semata.
Hal ini menyebabkan manusia berada dalam sebuah keterasingan, karena mereka
terasing dari kodratnya dalam berproduksi, terasing dari produk-produk yang
mereka produksi, dan terasing dari sesama manusia itu sendiri. Hal ini
disebabkan oleh sistem kapitalisme, yang memecah masyarakat ke dalam dua
kelompok utama. Kelompok pertama, borjuasi, melakukan kegiatan produksi hanya
untuk kepentingan diri mereka sendiri dengan memperbudak orang lain. Dengan
begitu, borjuasi telah terasing dari kodrat manusia, yaitu manusia sebagai
makhluk sosial. Kelompok kedua, proletariat, dalam melakukan kegiatan
berproduksi, tidak lagi menggunakan kreativitasnya dan kebebasannya. Dengan
begitu, proletariat, selain dianggap objek oleh borjuasi, juga telah
terasingkan dari kodrat berproduksi manusia, yaitu kreatif dan bebas.
Keterasingan ini
tidak berhenti hanya sampai disitu. Keterasingan ini juga terjadi di bidang pendidikan.
Manusia dalam belajar selalu didasari oleh rasa ingin tahu, dimana rasa ingin
tahu ini lahir dari pikiran yang kreatif dan bebas. Jika manusia terasing dari
kodrat kreatif dan bebas ini, maka bukan hanya terasing di dalam pekerjaan,
tapi juga dalam pendidikan.
Contoh yang bisa kita ambil adalah
kurikulum pendidikan Indonesia. Kurikulum pendidikan Indonesia menuntut
murid-muridnya untuk menguasai semua mata pelajaran. Dengan membabi buta, para
pembuat kurikulum menuntut murid-murid untuk menguasai segala hal tanpa melihat
keberagaman bakat dan minat murid-muridnya. Disini murid dijadikan objek oleh
para pembuat kurikulum itu seakan-akan murid-murid itu adalah anjing-anjing
sirkus, dimana murid-murid diperlakukan tidak sesuai dengan kodratnya. Dengan
begitu, dapat dikatakan bahwa murid-murid tersebut telah terasing dari
kodratnya, yaitu bebas dan kreatif.
Bukan hanya terasing dari kodratnya
yang bebas dan kreatif, murid-murid juga terasing dari kefahamannya. Kefahaman
murid dinilai hanya dengan angka, bukan dengan kefahaman yang sebenarnya. Nilai
(angka) yang didapat murid didasarkan pada ulangan yang sifatnya hanya menguji
hapalan murid, bukan menguji pikiran kritis yang didasarkan pada ilmu yang
telah dipelajari oleh murid. Juga dengan ujian praktek yang hanya didasarkan
pada penerapan ilmu dalam satu hari, bukan penerapan dalam kehidupan murid.
Kebobrokan sistem Pendidikan ini jika dipertahankan
akan sangat membahayakan masa depan bangsa ini. Dalam menghadapi MEA
(Masyarakat Ekonomi ASEAN), bukan hanya kemampuan dalam segala bidang yang
dibutuhkan. Kemampuan dalam segala bidang hanya akan menjadikan kita sebagai superworker (pekerja yang bisa disuruh
melakukan apa saja). Dalam menghadapi
persaingan bebas globalisasi, yang dibutuhkan adalah kebebasan dan kreativitas
supaya dapat menghasilkan produk-produk inovasi yang dapat bersaing dengan
produk luar negeri. Kebebasan dan kreativitas ini pula yang akan membawa
generasi penerus bangsa ini untuk menjadi pemimpin dunia.
Untuk
menghadapi tantangan di masa depan ini, perlu adanya sebuah usaha untuk mengembalikan kodrat manusia sebagai makhluk
sosial yang bebas dan kreatif. Ini dapat dilakukan dengan mengganti kurikulum
dengan kurikulum yang mengedepankan kemanusiaan, minat, bakat, kebebasan dan kreativitas.
Dengan begitu, akan tercipta keadaan dimana murid-murid tidak lagi terasing dan
dengan terciptanya generasi penerus bangsa yang tidak terasing, insyaallah,
Indonesia akan menjadi negara maju.
Komentar
Posting Komentar